CILACAP – Paparan radikalisme di institusi pendidikan menjelang tahun ajaran baru yang biasanya berdekatan dengan momen Lebaran menjadi fenomena. Hal ini menyebabkan orang tua yang akan memasukan anaknya pesantren atau lembaga pendidikan Islam lainnya harus lebih jeli dalam mementukan pesantren mana yang dipilihnya.
“Semua jejaring Nahdlatul Ulama dengan lembaga-lembaga pendidikan yang dimilikinya, baik lembaga pendidikan formal maupun non formal, selalu kita kampanyekan tentang Islam rahmatan lil alamin. Artinya bahwa NU menghargai kebhinekaan, tetapi NU juga menolak apa radikalisme ajaran-ajaran kekerasan yang mengajarkan kebencian terhadap sesama makhluk,” ujar Wakil Ketua Tanfidyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap KH Khazam Bisri.
NU atau lembaga yang menaungi pondok pesantren dan pendidikan lainnya, seperti lembaga pendidikan Ma’arif selalu melakukan sosialisasi pada masyarakat. Agar para orang tua yang akan menyekolahkan atau menitipkan anak ke pesantren harus betul-betul yang paham, supaya tidak sampai salah dalam menitipkan anaknya.
“Untuk itu, perlu diperhatikan memilih pesantren yang lebih terbuka dan tidak ekslusif. Diharapkan kepada orang tua ketika akan menyekolahkan di halaman lembaga pendidikan yang sesuai dengan nafas yang menghasilkan Islam jamaah anak itu apa cita-cita kamu termasuk ketika akan menunjukkan di lembaga Pesantren maka pesantren yang terdapat dengan Nahdlatul Ulama,” imbuhnya.
Dijelaskan, tidak semua pesantren itu dimiliki NU karena pesantren lain yang tidak sepaham dengan NU. “Di Cilacap kami telah memetakan pesantren agar diketahui masyarakat. Dalam artian, ini pesantren yang dimiliki NU dan ini pesantren bukan NU,”lanjutnya.
Pemetaan pesantren selalu disampaikan dalam sosialisasi kepada masyarakat, dengan harapan ketika para orang tua itu akan menyekolahkan mau menitipkan anak pesantren harus betul-betul paham, agar sesuai dengan keinginannya.
Menurutnya, lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan NU baik formal non formal akan terseleksi secara alami jika kurikulum dan kegiatan dakwah tetap berpegang teguh pada prinsip Aswaja (Ahlu Sunnah wal Jama’ah) yang moderat.
